Menulislah.!!!


Free chat widget @ ShoutMix

28 November 2008

Puisi Akhir Hayat

Setiap makhluk pasti akan menemui ajalnya. Namun, tak satupun yang tahu kapan dan dimana ajal akan tiba. Siapa sangka, bahwa salah satu kawan kita Ashar menghembuskan nafas terakhirnya di Bantimurung Kabupaten Maros. Lelaki rasal Bone yang ternyata cukup puitis.

Sabtu itu,
sekitar pukul 06.30 pagi, beberapa saat setelah shalat subuh. Ashar bersama ketiga rekannya Awal, Sultan, dan Ardi meninggalkan villa dengan maksud sekedar jalan-jalan. Keempatnya berjalan menuju Gua Batu Bantimurung. Sekitar pukul 07.00 pagi mereka tiba di telaga. Saat itu Ashar memang sudah berniat berenang. “Dari awal keempatnya sepakat tidak akan ada kegiatan berenang karena melihat kondisi air yang mengalir deras dan hujan baru saja reda. Namun almarhum yakin kalau tetap beristigfar tak akan terjadi apa-apa pada mereka.” tutur Firman, mahasiswa Sastra Daerah yang juga sebagai Ketua Angkatan PSGBD sekaligus Ketua Panitia Study Wisata.

Pemandangan disana belum memuaskan menurut mereka, akhirnya mereka berjalan lagi ke atas, tepatnya di sekitar air terjun. Setelah melewati kuburan, gelagat Ashar memang sudah berubah. Ia banyak senyum dan diam, tidak seperti biasanya yang lumayan banyak bicara. Setibanya di sekitar air terjun, Ashar lalu menitipkan dompet dan kunci kamar kostnya kepada salah satu rekannya. Sedangkan telepon genggam almarhum sudah disimpan dalam tasnya semalam sebelum kejadian. Setelah itu, Ashar menggulung celana dan duduk di pinggir pusaran air. Setelah itu ia seolah hilang kesadaran, mungkin dipengaruhi oleh rasa kantuk sebab kurang tidur, Ashar lalu melompat ke pusaran air. Beberapa saat kemudian, Awal yang pandai berenang langsung melompat juga untuk memberikan pertolongan. Bahkan Awal pun sempat terbawa arus. Setelah Ashar melepaskan tangannya dari pundak Awal, akhirnya Awal pun bisa menyelamatkan diri sedangkan Ashar hanyut di pusaran air.

Pukul 08.00 pagi, Ashar dinyatakan meninggal. Tim SAR pun berdatangan. Tim SAR dari Maros yang pertama kali datang, tak mampu menemukan jenazah Ashar karena aliran air yang sangat deras. Setelah itu datang pula BASARNAS. Nanti setelah Tim SAR dari UNHAS tiba sekitar pukul 15.00 wita, mayat Ashar baru bisa ditemukan. Pada saat itu keluarga almarhum dari Bone juga sudah tiba di lokasi kejadian. Anehnya tubuh Ashar tidak seperti korban tenggelam. Tak ada air yang tertelan. Posisi mayat ditemukan dengan kaki di atas dan kepala pada bagian bawah. Keanehan lainnya lagi, pada pukul 08.00 pagi, di tempat yang berbeda, dua rekan Ashar melihat Ashar sedang membersihkan kamar kostnya. Kedua rekannya itu sempat menyapa Ashar namun yang disapa tidak mengubris sama sekali.

Setelah itu, mayat dilarikan ke rumah sakit Maros untuk di visum, sekitrar pukul 4 sore. Selesai divisum, mayat dipulangkan ke rumah almarhum di Kabupaten Bone. Teman-teman yang mengikuti kegiatan study wisata itu juga mengikut sekitar pukul 7 malam. Tak ada yang sempat kembali ke rumah masing-masing. Keesokan hari, setelah proses pemakaman selesai barulah mereka kembali ke Makassar.

Prof. Lukman selaku Ketua Program Studi PSGBD yang ditemui di kantornya yang berada di lantai II ruang 207 FIB Unhas, menyatakan bahwa kejadian yang menimpa saudara Ashar merupakan musibah yang tidak diinginkan. “Hal ini sudah dibicarakan dengan pihak keluarga maupun Pemerintah Provinsi yang bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya dalam penyelenggaraan PSGBD ini,“ ungkapnya. Kegiatan ini diikuti oleh 45 peserta dan satu pendamping yaitu sekretaris PSGBD, Muchlis Hadrawis. Ditanya mengenai kronologi kejadian, ia menyatakan bahwa kejadian ini terjadi pukul setengah tujuh pagi. “Konon kata teman Ashar, mereka berempat bersama Ashar berjalan-jalan ke atas di pinggir danau. Ashar yang sebelumnya pernah ke Bantimurung ingin mengajak mereka melihat sesuatu yang bagus. Teman-temannya mengatakan, dalam perjalanan itu Ashar terlihat aneh, ia seperti dikendalikan kekuatan di luar dirinya. Misalnya Ashar bertanya mana dua perempuan yang tadi lewat, sementara teman-temannya tidak melihat dua perempuan yang dimaksud Ashar. Sampai di pinggir danau, Ashar menurunkan kakinya ke air kemudian ia mulai berjalan ke arah danau. Padahal dalam kegiatan tersebut tidak ada acara mandi-mandi. Ashar kemudian berbalik dan tersenyum kepada teman-temannya sementara teman-temannya terus berteriak memanggilnya. Ashar lalu meloncat ke air dan terjadilah musibah itu,“. Pak Muchlis menambahkan bahwa ketika kejadian itu pihak keluarga langsung ditelepon begitupun pihak Fakultas. “Kejadian ini adalah musibah yang tidak diinginkan. Saya selaku ketua PSGBD bersama sekretaris PSGBD dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya telah membuat laporan tertulis kepada Pemprov selaku rekan penyelenggara PSGBD. Pihak keluarga pun telah ditemui dan mereka menerima hal ini sebagai musibah,” tutur Prof Lukman menutup wawancara.

“Saya diinformasikan oleh Ketua Jurusan PSGBD melalui telepon mengenai kejadian yang menimpa salah satu mahasiswanya pada saat itu juga. Karena pada saat itu saya sedang memberikan arahan dalam forum dekan di Jogja, bagaimana bertindak sigap untuk menyelamatkan korban dan mengkoordinasikan kepada Pembantu Rektor III untuk meminta bantuan berupa tim sar, ambulans, dan bus kampus untuk mengantar jenazah,” ungkap Dekan Fakultas Ilmu Budaya saat ditemui di ruang kerjanya.

Namun adanya proses pengkaderan yang dilakukan oleh PSGBD ternyata tidak diketahui oleh pihak himpunan. Aco selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Sastra Daerah (IMSAD) menuturkan bahwa pihaknya bahkan tidak diundang ataupun diberitahu oleh pihak PSGBD mengenai adanya acara tersebut, walaupun pada dasarnya acara tersebut memang bukan acara himpunan.

Disamping itu, pihak dari IMSAD pun juga sudah pernah melakukan diskusi dengan sekretaris program studi PSGBD mengenai keberadaan program studi yang baru ini di himpunan. Berdasarkan hasil diskusi tersebut, menyatakan bahwa untuk tahun pertama PSGBD memang belum mau untuk bergabung dengan IMSAD karena suatu alasan. Namun, mereka juga mengatakan bahwa, untuk tahun depan, PSGBD mungkin sudah akan bergabung dengan IMSAD.

Walau ia telah tiada, tapi kenangan akan sosok pria yang cukup puitis ini tetap melekat dihati teman-temannya. Dibuktikan dengan karya puisinya tentang ‘arti sahabat’ yang sudah digandakan berkali-kali oleh teman-temannya. Karya Ashar ini bisa dilihat di Letra (Lembar Sastra) pada lembar terakhir Newsletter ini.
(MG001, 002, 004, MT)

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More